Friday, 27 February 2015

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

“Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” adalah sebuah novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama penanya, Hamka. Cerita dalam novel tersebut pertama kali ditulis sebagai cerita bersambung untuk majalah yang dipimpinnya, “Pedoman Masjarakat” pada tahun 1938. Barulah pada tahun 1939, kisah ini diterbitkan menjadi buku. Cerita yang berdasar pada buah pikiran Hamka ini, menjadi salah satu novel penting dalam eranya yaitu pada angkatan Pujangga Baru. Dengan berlatar belakang adat dan tradisi Minangkabau yang dikemas dalam roman yang menyentuh hati, karya ini diakui oleh beberapa kritikus sastra sebagai karya terbaik Hamka. Sampai sekarang, novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” sudah mengalami 32 kali cetak ulang dengan tebal 236 halaman


           
                Kisah yang termasyhur ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Zainuddin yang dalam hidupnya mengalami banyak penderitaan akibat terkekang adat dan tradisi serta moral dari masyarakat pada zamannya yang kurang terpuji. Hidup Zainuddin yang diterjang banyak kemalangan berawal dari ayahnya yang mencoba melawan keserakahan keluarga besarnya jauh sebelum ia lahir. Ayahnya, Pandekar Sutan, merupakan ahli waris tunggal dari harta peninggalan ibunya. Karena adat Minangkabau berdasar pada garis keturunan ibu, maka sepeninggal ibunya, meskipun harta seharusnya jatuh ke tangan anak, pihak keluarga perempuan juga ikut mengurus harta tersebut. Singkat cerita, pecahlah pertengkaran antara Pandekar Sutan dengan mamaknya (panggilan untuk paman), Datuk Mantari Labih, karena ketamakan mamaknya tersebut memonopoli harta peninggalan ibunya. Pertengkaran tersebut berujung pada kematian Datuk Mantari Labih, akibatnya Pandekar Sutan dijatuhi hukuman yaitu diasingkan  dari Batipuh, Sumatera Barat ke Cilacap, Jawa Tengah selama 15 tahun. Dalam masa pembuangannya itu, terjadilah Perang Bone di Makassar, karena dianggap sebagai orang yang kuat dan berani, ia pun dibawa ke Makassar. Setelah masa tersebut usai, Pandekar Sutan memilih untuk menetap di sana daripada pulang ke tanah asalnya. Di Tanah Mengkasar, Ia menikah dengan seorang wanita keturunan Bugis bernama Daeng Habibah. Dari pernikahannya yang singkat, ia beroleh seorang anak laki-laki, anak lelaki itulah Zainuddin.
            Sembilan bulan setelah kelahiran Zainuddin, Ibunya meninggal karena suatu penyakit. Beberapa tahun kemudian, tinggalah ia yatim piatu dengan pengasuhnya, Mak Base yang telah sangat setia bertahun-tahun mengabdi kepada keluarganya. Karena ingin menyempurnakan cita-cita ayah bundanya untuk pergi menuntut ilmu yang tinggi di Negeri Padang, pergilah ia ke tanah kelahiran ayahnya, ke Batipuh, dengan membawa uang sekedar ongkos kapal. Ia meninggalkan Mak Base, pengasuhnya itu untuk mengelola seluruh harta peninggalan orangtuanya dan memperniagakannya. Harta tersebut dianggap oleh Zainuddin sebagai hak milik mereka berdua, sehingga siapa lebih dahulu meninggal, orang tersebutlah yang akan mewariskan semua harta itu kepada yang masih hidup.
            Sesampainya Zainuddin di Padang, Ia langsung bertandang ke kediaman bakonya (sebutan untuk keluarga dari pihak ayah) dan memperkenalkan diri. Awalnya, kedatangannya itu disambut dengan senang karena rupanya sebagai anak muda yang gagah dan pantas, tetapi seiring waktu, basa-basi itu lenyap juga. Hal tersebut bukan dikarenakan ketidaksukaan keluarga kepadanya, pribadinya begitu terpuji, tak bisa orang membencinya, melainkan akibat latar belakangnya bukan orang Padang asli, sehingga dianggap sebagai orang jauh, bukan keluarga.
            Hayati adalah seorang gadis remaja putri yang sangat cantik, keturunan keluarga Minangkabau yang dipandang baik. Perkenalan Zainuddin dan Hayati terjadi waktu Zainuddin menolongnya dengan meminjamkan payung agar ia bisa pulang ke rumah. Peristiwa inilah yang menjadi awal inti dari roman menyedihkan yang bertemakan kasih tak sampai lantaran tembok budaya. Hubungan keduanya bermulai dari ucapan terima kasih Hayati melalui surat yang dikirimkannya kepada Zainuddin melalui adiknya, Ahmad. Zainuddin mulai menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Hayati, dan hanya kepada Hayati, ia dapat mengadukan nasibnya sebagai orang terbuang dan mendapat kepedulian yang tulus, karena kepedulian yang ia dapat dari keluarganya hanya kalau-kalau ia mendapatkan kiriman uang bulanan dari Mak Base selain itu habis perkataan manis untuknya. Awalnya, Hayati hanya merasa kasihan akan penderitaan yang dialami Zainuddin, tetapi rasa kasihan itu kemudian tumbuh menjadi perasaan cinta.
            Hubungan Zainuddin dan Hayati yang kian erat kian lama tersiar di dusun tempat mereka tinggal. Percintaan tulus kedua insan itu menjadi gunjingan dari mulut ke mulut kaum muda, semakin lama semakin meluas sehingga menjadi rahasia umum. Meskipun keduanya hanya berkirim-kiriman surat, perbuatan tersebut dianggap tidak pantas, karena mereka bukan hendak menikah. Datuk (Orang yang dituakan dalam keluarga) dari keluarga Hayati pun mengusir Zainuddin dari Batipuh karena perbuatannya itu dianggap tak senonoh dan menyalahi adat, percintaan mereka juga dianggap dapat merusak nama keluarga dan turun temurun, lantaran Hayati anak keluarga beradat dan terpandang sedangkan Zainuddin anak orang terbuang, dianggap sah sebagai orang Minangkabau pun tidak. Karena kecintaannya yang besar akan Hayati, ia pun setuju untuk pergi dari Batipuh.
            Padang Panjang menjadi tujuan Zainuddin, ia berharap di sana dapat menempuh ilmu lebih tinggi lagi terutama paham agama dan kesenian karena ia ingin menjadi ahli syair pula. Di tengah jalan menuju kota tersebut, bertemulah ia dengan Hayati yang datang untuk mengucapkan perpisahaan. Pada perjumpaan itu, mereka berjanji untuk tetap saling mencintai dan akan menunggu satu sama lain sampai keduanya bisa menjadi suami istri. Hubungan mereka juga akan tetap diteruskan walaupun dipisahkan oleh jarak, surat-menyurat tetap menjadi sarana komunikasi.
            Sesuai dengan kebiasaan masyarakat, setiap tahunnya diadakan pacuan kuda dan pasar malam di kota-kota besar di Sumatera Barat, salah satunya di Padang Panjang. Karena ingin bertemu dengan Zainuddin dan melihat pacuan, Hayati pun pergi ke Padang Panjang dan menginap di rumah temannya, Khadijah yang sering ia kirimi surat. Khadijah memiliki seorang kakak laki-laki bernama Aziz yang juga tinggal di rumah tersebut. Meskipun mereka keturunan Minangkabau asli, mereka tidak berpegang teguh pada adat dan sudah menjalani kehidupan layaknya orang kota. Setelah melihat Zainuddin di pacuan kuda dan membaca surat Zainuddin kepada Hayati yang isinya mempertanyakan baju modern yang Hayati pakai, Khadijah menjelek-jelekan Zainuddin di hadapan Hayati, sehingga membuat Hayati ragu terhadap perasaannya kepada lelaki itu karena ia sangat percaya dan menghormati sahabatnya tersebut. Khadijah juga mengatakan bahwa masa depan Hayati bersama Zainuddin tidak akan baik karena Zainuddin seorang tak punya harta.
            Setelah kepulangan Hayati ke Batipuh, Khadijah mengusulkan kepada keluargannya agar Hayati diperistri Aziz. Hal ini diterima dengan baik oleh ibu dan kakaknya karena Hayati selain cantik juga baik budinya, apalagi Aziz terpesona dengan kecantikan Hayati. Khadijah pun berkirim surat ke Hayati mengatakan bahwa akan ada utusan dari keluarganya untuk meminta Hayati menjadi istri abangnya.
            Sementara itu, Zainuddin mendapatkan surat dari kerabatnya di Makassar, isinya adalah berita tentang Mak Base, pengasuhnya telah meninggal dunia. Bersamaan dengan surat itu juga dikatakan bahwa Zainuddin mendapatkan harta yang lumayan banyak, hasil dari perniagaan harta ayahnya. Awalnya, ia sangat sedih mendengar kematian ibu angkatnya itu, tetapi, ia segera bangkit dari kesedihannya setelah mengetahui harta yang ditinggalkan Mak base bisa digunakannya untuk hidup bersama Hayati. Maka, ditulislah surat oleh Zainuddin kepada segenap keluarga Hayati menyatakan keinginannya untuk meminang Hayati, namun, ia tidak menuliskan kondisinya sekarang yang mendapatkan warisan cukup banyak. Surat tersebut sampai dua hari setelah utusan keluarga Aziz pulang.
            Untuk menyikapi kedua lamaran tersebut, bermusyawarahlah segenap tua-tua keluarga Hayati. Karena Aziz merupakan anak seorang Minangkabau yang berpangkat dan termasyhur, punya pekerjaan baik, dan juga hartanya banyak, maka, pihak keluarga memilih untuk menerima lamaran Aziz, lagipula Zainuddin hanya menuliskan lamarannya dalam sebuah surat, sehingga dianggap menyalahi adat yang berlaku. Tidak ingin Hayati mengecewakan keluarganya, meskipun ia cinta akan Zainuddin, namun terlintas juga dalam pikirannya nasihat dari Khadijah, oleh karena itu ia setuju dengan keputusan keluarganya untuk menerima lamaran Aziz.
            Surat penolakan lamaran dikirimkan pihak keluarga Hayati kepada Zainuddin. Isinya mengatakan bahwa lamarannya tak bisa diterima lantaran negeri Minangkabau beradat. Marah dan sakit hati pun menguasai pikirannya, sehingga pergilah ia menjelajah negeri Minangkabau katanya untuk mengobati sakit hati. Bukannya sembuh, malah bertambah lesu sekembalinya dari perjalanan itu, apalagi ia menerima surat dari Khadijah yang menyuruhnya untuk menjauhi Hayati karena perempuan itu sudah menerima lamaran Aziz. Melihat kondisi Zainuddin, maka ibu pemilik rumah di mana Zainuddin tinggal di Padang Panjang, memperkenalkan ia dengan anaknya, Muluk yang pandai bergaul dan memberi nasihat hidup.
            Muluk mengenal Aziz, Aziz adalah seorang yang tabiatnya buruk , suka berjudi dan main wanita. Mengetahui  hal tersebut, timbullah rasa kasihan Zainuddin kepada Hayati, ia percaya bahwa wanita itu masih mencintai dirinya dan memegang teguh janji untuk menunggunya. Maka, ditulislah olehnya surat kepada Hayati menyatakan kecintaannya akan dia dan keinginannya untuk melindungi Hayati dari Aziz. Surat tersebut tidak mendapat balasan dari Hayati, sampai akhirnya surat ketiga dibalas Hayati dengan dingin. Dalam surat tersebut, Hayati mengatakan bahwa perkawinannya dengan Aziz merupakan pilihannya sendiri lantaran ia dan Zainuddin keadaannya sama-sama melarat dan bagaimanapun pernikahan mereka tak dapat dilangsungkan karena perbedaan ras.
            Menerima kenyataan bahwa ia tak dapat merajut masa depan bersama perempuan yang dicintainya, Zainuddin pun jatuh sakit. Sakit tersebut berlangsung selama dua bulan, dan sering dalam sakitnya itu ia mengigau nama Hayati. Setelah sembuh dan mendengar nasihat Muluk, timbulah keinginan Zainudin untuk pergi ke Tanah Jawa mencapai cita-citanya menjadi seorang ahli sastra. Muluk turut pergi bersamanya dan mereka menjadi sahabat yang tak terpisahkan.
            Sesampainya kedua orang muda itu ke Jakarta, Zainuddin mulai merintis kariernya di bidang sastra dengan mengirim karangan-karangan ke surat kabar. Karyanya itu dituliskan dengan nama pena “Z”. Kepandaiannya menyusun bahasa dan tulisannya yang menyentuh hati, mendapatkan respon yang sangat baik, sehingga direktur dari suatu surat kabar ingin mempekerjakannya. Tawaran tersebut ditolak olehnya karena ia tidak ingin bekerja di bawah tangan orang lain.
Muluk dan Zainuddin pun meninggalkan Jakarta dan pergi ke Surabaya. Kariernya makin melambung di kota tersebut. Ketika diketahuinya ada perkumpulan anak-anak Sumatera, mulailah ia berkarya di situ. Dalam waktu yang singkat, namanya telah harum, sehingga tidak lama kemudian, atas anjurannya didirikanlah perkumpulan tonil bernama “Andalas”. Kelompok tersebut tampil berdasarkan karya-karya sastra yang dikarang Zainuddin.
Melalui surat yang ditulis Hayati kepada Khadijah, diketahui bahwa awalnya kehidupan pernikahannya dengan Aziz begitu bahagia karena Aziz merupakan seorang suami yang baik. Karena pekerjaan Aziz, mereka berdua pindah ke Surabaya. Setelah kepindahan mereka ke Tanah Jawa, maka mulailah rusak perkawinan kedua orang itu. Aziz kembali ke tabiat buruknya lantaran sudah bosan dengan Hayati, seringkali mereka berdua kekurangan karena gaji Aziz lenyap entah ke mana. Ketidakbahagiaan Hayati dalam perkawinannya, membuatnya rindu kepada cinta sejatinya, Zainuddin
Suatu hari sampailah kepada Hayati surat undangan untuk menonton penampilan tonil dari karya Tuan “Z” atau Tuan Shabir, Zainuddin memang telah mengganti namanya menjadi Shabir yang artinya tenang dan sabar. Surat tersebut juga disertai dengan surat undangan untuk bergabung dengan “Klub Anak Sumatera”. Hayati pun meminta Aziz untuk mengajaknya pergi ke acara itu. Pada acara itu bertemulah kembali ia dengan Zainuddin yang sekarang keadaannya sudah jauh berbeda.
Terjalinlah persahabatan antara Aziz, Hayati, dan Zainuddin. Dalam persahabatan itu seringkali Aziz memanfaatkan kebaikhatian Zainuddin untuk memberinya bantuan finansial. Perangai buruk Aziz pun semakin menjadi-jadi sampai akhirnya ia kehilangan rumah beserta seluruh hartanya. Karena budi baiknya, Zainuddin pun menawarkan tempat tinggalnya untuk menjadi tempat Aziz dan Hayati hidup untuk sementara. Mendapatkan kebaikan yang begitu banyak dari Zainuddin, membuatnya merasa tidak layak menjadi suami Hayati. Maka pergilah Aziz ke luar kota, ke Banyuwangi, katanya untuk mencari pekerjaan, ia meninggalkan Hayati di rumah Zainuddin agar tidak ikut menderita. Tak berapa lama kemudian, sampailah surat dari Aziz ke kediaman Zainuddin, menyatakan bahwa ia menggugat cerai Hayati dan menyerahkan Hayati sepenuhnya ke tangan Zainuddin. Bersama dengan surat itu terdapat artikel dari Koran harian di Banyuwangi berisi tentang Aziz yang telah bunuh diri.
Selama ditinggal Aziz di rumah Zainuddin, kehadiran Hayati tidak terlalu diacuhkan oleh Zainuddin karena sebagai seorang pria yang baik, tak ingin ia menodai izab kabul sahabatnya. Sikap Zainuddin membuat Hayati merasa tersingkirkan, apalagi ia menyadari bahwa ia masih mencintai lelaki itu. Melalui perbincangan dengan Muluk, Hayati pun mengetahui bahwa Zainuddin sebenarnya menderita di tengah-tengah kekayaan dan kemashyurannya lantaran cintanya yang tak pernah sampai kepada Hayati, Zainuddin juga sebenarnya masih cinta akan Hayati namun perasaan itu dipendamnya rapat-rapat.
Surat yang dikirim Aziz membuat Zainuddin merasa bimbang. Di satu sisi, ia masih sangat cinta akan Hayati dan ingin memulai hidup baru dengan wanita itu, di lain sisi, ia teringat semua penderitaan yang dialami karena penolakan Hayati kepadanya. Akhirnya, disurulah Hayati pulang ke Padang, meskipun Hayati menolak keputusan Zainuddin itu karena ia ingin hidup dengannya, tetaplah Zainuddin bersikeras dengan keputusannya.
Sebelum Hayati pergi meninggalkan Zainuddin, ia meninggalkan sebuah surat yang menyatakan perasaannya yang sebenar-benarnya kepada Zainuddin. Dengan berat hati ditinggalkan pria yang dicintainya itu, diantar oleh Muluk, Hayati juga meminta gambar Zainuddin untuk dibawanya pergi. Setelah membaca surat dari Hayati, sadarlah Zainuddin bahwa keputusannya benar-benar salah, ia masih sangat mencintai Hayati. Zainuddin dan Muluk pun cepat-cepat berangkat ke Jakarta dengan kereta, berniat menyusul Hayati karena kapal yang ditumpanginya  akan bersinggah di sana sehingga ia dapat membawanya pulang.
Sesampainya Zainuddin dan Muluk di Jakarta, tersiarlah berita bahwa Kapal Van der Wijck, kapal yang ditumpangi Hayati untuk pulang ke Padang, telah tenggelam tanpa diketahui penyebabnya. Untunglah Hayati termasuk salah seorang penumpang yang selamat dan dirawat di Lamongan, namun ternyata keadaannya masih kritis. Pergilah Zainuddin dan Muluk menjenguk Hayati, perawat di Lamongan langsung mengenalinya karena gambar Zainuddin ada di dalam selendang Hayati sewaktu ia ditemukan. Karena begitu banyak kehilangan darah dan sarana rumah sakit yang kurang memadai, tak dapat Hayati mengelak dari maut. Sebelum meninggal, ia berkata kepada Zainuddin bahwa ia senang apabila kematian menjemputnya sekarang karena ia sudah tahu Zainuddin masih cinta akan dia. Melihat Hayati tergulai lemas tak bernyawa di hadapannya, Zainuddin tidak dapat menahan hatinya lagi, begitu sedihnya sampai-sampai ia pingsan.

Sepeninggalnya Hayati, Zainuddin menjadi orang yang tertutup. Ia tidak begitu suka lagi menerima tamu-tamu yang tertarik pada karangannya. Sering dalam kesendiriannya ia merasa mendengar suara Hayati memanggil-manggil namanya meminta tolong di dalam Kapal Van der Wijck yang mulai karam. Suatu malam, terdengarlah Zainuddin merintih kesakitan. Zainuddin memang telah lama sakit karena sakit hati, perasaan bersalah, dan kekecewaan. Pada malam itu, Muluk langsung datang menolongnya dengan memanggilkan dokter. Sayangnya, nyawa pengarang termashyur itu tak dapat diselamatkan. Melalui wasiatnya, ia menyerahkan seluruh karyanya untuk “Klub Anak Sumatera”, seluruh peninggalan ayah bundanya kepada kerabat di Makassar, dan semua harta bendanya untuk sahabatnya, Muluk. Untuk memenuhi permintaan terakhirnya, Zainuddin dikebumikan di samping pusara Hayati, wanita yang selalu diangan-angankannya sewaktu dirinya masih bernafas.

Untuk mereka yang bersama berjuang


Ketika tanah siap digali
dan kaki tak lagi berlari
kepadanya waktu mengabdi

Tempat untuk kembali
Rasa yang abadi

Sahabat-sahabat sejati











dan


Bila cerita hanya menyisakan nama,
ingat kita pernah bersama

bila makna hanya meninggalkan kata,
ingat kita pernah bahagia

karena ketika waktu tak lagi hak
bolehlah kita berpaling dengan bangga
mengatakan "Saya pernah merasa"




Arsitektur Gotik

Arsitektur secara umum merupakan seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Arsitektur merupakan jembatan antara tujuan dan bahan. Bahan merupakan kondisi lingkungan sekitar beserta sumber daya yang tersedia untuk pembangunan. Tujuan yang dimaksud adalah kebutuhan manusia akan tempat tinggal yang kondusif. Tujuan lainnya adalah tujuan estetis yaitu merencanakan bangunan yang tidak hanya fungsional namun juga mengandung unsur-unsur keindahan, oleh sebab itu arsitektur bukan hanya merupakan ilmu tetapi juga merupakan seni.

1. Arsitektur Gotik
Menurut Prof. Mr. Ag. Pringgodigdo dalam Ensiklopedi Umum (1977: 83) Arsitektur Gotik berkembang di Eropa pada abad dua belas sampai enam belas. Gaya merancang yang biasa digunakan untuk merancang gereja ini, merupakan perkembangan dari arsitektur Roman. Arsitektur ini pertama kali berkembang di Prancis, sehingga sering disebut dengan gaya Prancis. Arsitektur Gotik berkembang di berbagai tempat di Eropa sehingga masing-masing daerah memiliki cirinya tersendiri, namun filosofi yang digunakan tetap sama.

Ciri-ciri Umum Arsitektur Gotik
                                                                                                                                      

“Filsafat arsitektur Gotik adalah vertikalisme, transparan dan diafan. Garis vertikal mengungkapkan ciri zaman yang mengarah total pada Yang Maha Tinggi. Dinding-dinding kaca berwarna memperlihatkan cita-cita lepas dari kewadaqan materi/ kehidupan yang fana. Diafan artinya cahaya yang menembus, selaku lambang rahmat Tuhan yang menembus kefanaan hidup manusia untuk meneranginya dengan Nur-Illahi.” (Mangunwijaya, 1988:111)


A. Unsur Vertikalisme


“Maka gereja dibentuk mirip jalan raya perkotaan, dari barat menuju ke timur (arah matahari selaku simbol Sol Christi, Matahari Kudus), dengan langit-langit berlengkung-lengkung bagaikan angkasa, dengan denah berbentuk salib. Seluruh bangunan menghendaki dengan sengaja suatu struktur vertikal, karena pandangan hidup Kristen di masa itu berpendapat, bahwa hanya dunia bakalah yang sejati, dan hanya dimensi vertikal mengarah ke Tuhan-lah yang berlaku.” (Mangunwijaya, 1988:104)

“… tetapi yang menyolok ialah, bahwa gaya ini dilakukan untuk lengkung-lengkung runcing dan lengkung-lengkung bertulang… Bangunan dibuat lebih tinggi dengan lengkung serta tembok yang lebih ramping. Cagak penyambung (lengkung batu yang menyandar pada bagian luar tembok untuk menahan tekanan) memberikan lebih banyak keseimbangan pada susunan kerangka. Sifat yang luwes dan serasi merupakan tanda khas daripada gaya Gothik.” (Pringgodigdo, 1977: 83)

Unsur utama dalam arsitektur Gotik adalah vertikalisme. Vertikalisme menggambarkan pemikiran yang mendominasi pada abad pertengahan yaitu Tuhan yang berkuasa atas seluruh kehidupan, oleh karena itu segala perbuatan manusia hendaknya selalu tertuju kepada Tuhan. Pada gereja-gereja berarsitektur Gotik, unsur ini dapat dikenali dengan mudah melalui atap-atap yang meruncing yang berarti menunjuk kepada Tuhan.


 












Gambar 2.1. Denah dasar Katedral Cologne, Jerman  yang menunjukkan simbol Sol Christi 

Arah, Denah, dan Proporsi
Gereja dengan arsitektur Gotik umumnya dibangun dengan muka menghadap Barat. Arah ini digunakan agar ruang Sakristi yang berisi dengan instrumen-instrumen sakral, yang berada di ujung berlawanan dari muka gereja, menghadap Timur. Sumbu bangunan Timur-Barat ini, mengikuti arah matahari terbit yang dianggap sebagai arah datangnya Kristus.
Bentuk dari denah dasar bangunan berupa salib. Proporsi panjang, lebar, dan tinggi bangunan yang menjadi ciri arsitektur ini adalah bangunan tersebut lebih tinggi dibandingkan lebar, sehingga memberikan kesan ramping. Struktur bangunan yang tinggi perlu didukung dengan dinding-dinding berkolom sebagai penopang. Bangunan yang sangat tinggi memiliki penopang yang disebut cagak penyambung atau disebut flying butress (Lihat gambar 2.2).                                                                                                                                                   






Gambar 2.2. Struktur gereja dengan arsitektur Gotik.

Langit-langit
         Langit-langit pada gereja Gotik berbentuk lengkungan-lengkungan yang menggambarkan angkasa. Lengkungan-lengkungan ini bertemu di suatu titik, membentuk struktur seperti tulang atau dikenal dengan ribbed vault (Lihat gambar 2.3). Selain mengandung unsur vertikalisme, struktur tulang pada langit-langit  juga konsisten dengan filosofi cahaya dalam arsitektur Gotik. Struktur bertulang memfokuskan daya tekan dari berat langit-langit pada dinding bangunan, sehingga memungkinkan pembangunan langit-langit yang tinggi dan lebar tanpa bantuan pilar-pilar besar. Hal ini memberikan kesan ringan dan ramping pada langit-langit yang terbuat dari batu, selain itu, memaksimalkan cahaya yang masuk ke dalam bangunan karena tidak terhalangi pilar-pilar besar.




Gambar 2.3. Ribbed vault

B. Unsur Transparan
         Unsur transparan yang mengarah pada kebebasan materi diwakili dengan banyaknya jendela-jendela yang dihiasi dengan kaca warna-warni. Unsur ini berhubungan dengan unsur cahaya yang menggambarkan rahmat Tuhan. Secara teknis, bangunan yang transparan memungkinkan banyak cahaya untuk masuk, sehingga secara filosofis menggambarkan hubungan manusia yang dekat dan tak terpisahkan dengan Tuhan.
         Jendela berkaca warna-warni selain berfungsi memperindah gereja, terkadang juga digunakan sebagai sarana komunikasi. Beberapa gereja memiliki mosaik kaca warna-warni yang membentuk cerita-cerita dalam Kitab Suci. Hal ini digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita Alkitab pada masyarakat awam pada abad pertengahan yang umumnya buta huruf.
C. Unsur Cahaya
         Cahaya dianggap sebagai lambang akan rahmat Tuhan bagi umat manusia. Gereja berarsitektur Gotik berusaha membuat banyak jendela-jendela besar agar lebih banyak cahaya yang masuk.

“…lengkungan berujung yang memberikan sedikit sokongan daripada lengkungan bulat seperti yang dominan digunakan oleh gaya Roma, sehingga bangunan itu membutuhkan lebih sedikit pilar di bagian dalam, dan dengan demikian bisa dibuat jendela-jendela yang jauh lebih besar.” (Collins dan Price, 1999: 111)

        
         Kerangka jendela melengkung dengan ujung meruncing atau dikenal sebagai pointed arch untuk memungkinkan pembuatan jendela yang lebih besar. Hal ini menjadi salah satu ciri khas gereja-gereja yang dibangun dengan arsitektur Gotik.

D. Material


“…mulailah suku-suku kaum Benua Utara yang kini disebut Eropa Barat itu bereksperimen dengan bangunan-bangunan yang ramping dan transparan. Padahal bahan yang dipakai mereka hanyalah batu alam yang hanya memungkinkan penjawaban terhadap daya tekan. Tidak pada daya tarik seperti kayu misalnya” (Mangunwijaya, 1988:104)

The Kite Runner


Title                            : The Kite Runner
Author                         : Khaled Hosseini
Publisher                     : Riverhead Books
Year                             : 2003
Page                             : 401 pages
Summary                     :
            In Kabul, Afghanistan, 1975, lived a twelve years old boy named Amir. Amir was privileged, his father whom he called Baba, was a rich businessman. They lived in an elite neighborhood, The Wazir Akbar Khan district, with their servant, Ali, and his son Hassan. Amir’s mother passed away giving birth to him. He felt that his father hated him because he was the cause of his mother dead. Rahim Khan, his father best friend, served as a father figure to him.
            Yearned for his father affection and acknowledgement, Amir sometimes felt jealous on Hassan, who sometimes got his father attention. Amir treated uneducated Hassan as his brother and best friend, but sometimes, played a fool on him in order to feel better. Hassan, on the other hand, was a sincere, loyal best friend and servant to Amir. He defended Amir when a notorious bully, Assef, threatened him.
            There was an annually held kite-fighting tournament in Kabul. The losing kites were chased by the kids, it called kite running. Every year, Amir and Hassan competed in the tournament as a team. That year, Amir won the kite-fighting tournament. Hassan wanted to run the last losing kite, which valued like a trophy to Amir. When Amir looked for Hassan, he found him with the losing kite, trapped in an empty alley by Assef and his entourage. Amir was hiding while he witnessed Hassan got raped. Amir ran away immediately and pretended like nothing happened.
            When he got home, he presented the losing kite to his father and Rahim Khan. They both were very proud of Amir. Amir was happy because finally he pleased his father, but felt guilty because he was a coward. He felt that he could not live with Hassan anymore, so he made Hassan and Ali moved away by doing a deception.
            March 1981, the Russian invaded Afghanistan. This event forced Amir and Baba to leave Afghanistan. Two years later, they built a new modest life in California, USA. Every week, the Afghans in America gathered in a flea market, where they sold things and reunited. There, Amir met the love of his life, Soraya. They married quickly because Baba was diagnosed with a lung cancer. Shortly after their marriage, Baba passed away.
            Years after it, Amir became a successful writer. One day, he received a call from Rahim Khan who looked after his house when he and Baba was gone. Rahim Khan was sick and wanted to meet Amir in Pakistan. In Pakistan, Rahim Khan told Amir that when he watched over his house, he got sick and lonely, so he decided to find Hassan. Hassan, his wife, Farzana, and his son, Sohrab, moved into the house, to the shack where Hassan used to live. Things got worse in Afghanisthan when the Soviet was forced out and replaced by the Taliban, who ruled in tyranny and brutality. When Rahim Khan went to Pakistan for a medical treatment, the Taliban found Hassan and his family. Because Hassan’s family was Hazaras, Hassan and his wife got shot, leaving his son alone, sent into an orphanage.
            Rahim Khan wanted Amir to go to Afghanistan to find Sohrab and bring him to Pakistan where an American couple would take care of him. This action is not only to redeem his old mistakes, which Rahim found out, but also because Hassan was Amir’s half brother, Baba’s illegitimate son. This fact was confidential, only known by Baba, Ali, and Rahim Khan. Amir was shocked and again, felt guilty because Hassan could not live the life he deserved. Hence, he looked for Sohrab.
After a long venture, He found Sohrab at a Taliban official house. Sohrab was dressed as a dancer, with make up on, suggesting that he was sexually abuse. It turned out that the Taliban Official was Assef. Assef and Amir got into a fight, which seriously damaged Amir. Sohrab saved Amir like his father had done, threatened Assef with his slingshot. But, this time, Sohrab really shot Assef’s eye.
When Amir recovered, he found out that Rahim Khan was gone and there was never a couple who would take care of Sohrab. He decided to ask Sohrab to move with him to USA. The adoption officials told Amir that adopting Sohrab would be impossible. Before he eventually found a way, Sohrab suicided. This attempt, however, did not kill him, but made him entirely silent. Sohrab did not speak a word even when he already moved to California with Amir’s family.
One day, there was an Afghans gathering at a park. People were flying kites like the old days in Afghanistan. Amir bought one, told Sohrab what he used to do with Hassan. The story ended with Sohrab finally smiled when Amir was running a losing kite for him.
           
Moral Values              :
1)     In life, we might find people who are dear to our heart, but as human, inevitably, make mistakes. These people can be our parents, friends, or loved ones. It is easier to blame them for the bad things they have done or caused, but it is much better to have a big heart, forgive them, and try our best to remain loyal. This value is portrayed in the character of Hassan. Despite some indecent behavior Amir had done to him, Hassan treated Amir respectfully as his master and his best friend. He forgave and forgot Amir’s mistakes, even longed for Amir’s presence.

2)    Sometimes, we find ourselves lacking of courage and confidence when we try to protect other people. We are afraid that the danger they face will also put us in a considerable peril. Nevertheless, we should be brave not just in standing for our rights, but in standing for things that are right. I learn this lesson from Amir’s mistake. If young Amir had the courage to help Hassan, he would not have to live in guilt. He would not need to get rid of Hassan, and could gave Hassan a better life.

3)    We should treat all human equally and courteously, regardless of their appearances, occupations, and beliefs. In this book, we were introduced to a character named Assef, who reflected the bad things in Afghanistan. He was arrogant and racist, relentlessly brutal to those he thought were unworthy. We also met characters like Baba, Hassan, and Rahim Khan that represent this value by the way they treated Hassan’s family.


4)    Rahim Khan said to Amir, "There is a way to be good again." (Hosseini, 2003: 2) when he needed Amir’s help to save Sohrab and “…And that, I believe, is what true redemption is, Amir jan, when guilt leads to good." (Hosseini, 2003: 326) on his last letter. Those quotes, I think, are corresponded to the whole theme of this story, which is redemption. Amir and Baba, both made mistakes. Amir atoned his by rescuing and providing a better place for Sohrab to grow up while Baba compensated his by being generous to those in need. Making mistakes is an unavoidable certainty in our everyday life. We make mistakes, sometimes oblivious, sometimes left us with remorse and guilt. What we have to understand is that life goes on, and there are always or will be solutions to redeem our sins if we try our hardest to be a better person.